Saatini Jabar AMP
Berita Jabar

Masuk Top 2% Scientists, Dr. Yedi Herdiana, Tekuni Pengembangan Sistem Penghantaran Obat Antikanker

[Kanal Media Unpad] Pengembangan obat saat ini tidak hanya berhenti pada penemuan zat aktif, tetapi juga bagaimana zat tersebut dapat diformulasikan, hingga mencapai sasaran pengobatan yang menentukan...

Oleh Tim Saat Ini

[Kanal Media Unpad] Pengembangan obat saat ini tidak hanya berhenti pada penemuan zat aktif, tetapi juga bagaimana zat tersebut dapat diformulasikan, hingga mencapai sasaran pengobatan yang menentukan keberhasilan pengobatan. Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus penelitian Dosen Departemen Farmasetika dan Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Dr. Yedi Herdiana, S.Si., M.Si., Apt. Kepakarannya tersebut menjadi bagian dari perjalanannya hingga berhasil masuk ke dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026.

Melalui penelitian di bidang sistem penghantaran obat, Yedi mengkaji potensi material, termasuk polimer alam seperti kitosan, untuk membantu menghantarkan zat aktif menuju sasaran terapi. Setelah suatu zat aktif diformulasikan menjadi obat, masih terdapat berbagai proses yang memengaruhi bagaimana zat tersebut didistribusikan dan mencapai bagian tubuh yang dituju.

“Bidang kepakaran saya adalah teknologi farmasi, terutama bagaimana memformulasikan obat dan mengembangkan sistem penghantarannya. Zat aktif tidak bekerja begitu saja setelah masuk ke dalam tubuh. Ada banyak proses yang harus dilalui sebelum zat tersebut mencapai sasaran pengobatan,” jelas Yedi.

Salah satu tantangan dalam pengembangan terapi kanker adalah bagaimana meningkatkan penghantaran zat aktif menuju sel sasaran, sekaligus membatasi paparan terhadap sel yang masih sehat. Pada dasarnya, tubuh memiliki mekanisme yang dapat memengaruhi distribusi dan eliminasi zat yang masuk ke dalam darah, sehingga sistem penghantaran obat dikembangkan untuk membantu mengatasi berbagai hambatan tersebut. 

Pendekatan yang banyak dikaji adalah penggunaan material yang dapat memengaruhi karakteristik penghantaran zat aktif, salah satu yang menjadi perhatiannya adalah kitosan, polimer alam yang dapat diperoleh dari cangkang udang. Material ini memiliki karakteristik yang menarik untuk dikembangkan dalam berbagai formulasi farmasi, termasuk sistem penghantaran obat berbasis nanopartikel.

“Yang menjadi perhatian saya bukan hanya obatnya, tetapi bagaimana sistem penghantarannya. Bagaimana zat aktif dapat mencapai sasaran pengobatan merupakan persoalan penting dalam pengembangan teknologi farmasi,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut sesuai dengan upaya pengembangan terapi kanker yang tidak hanya mempertimbangkan aktivitas obat terhadap sel kanker, tetapi juga bagaimana meminimalkan dampak yang tidak diinginkan terhadap sel normal. Namun, hal itu tetap memerlukan pembuktian melalui pengujian dan pengembangan yang lebih lanjut.

Di samping itu, pemanfaatan bahan alam menjadi peluang tersendiri bagi pengembangan teknologi farmasi di Indonesia. Yedi melihat potensi berbagai polimer alam yang berasal dari sumber daya lokal, termasuk material dari hasil laut. Selain kitosan, material seperti kolagen ikan dan alginat juga memiliki peluang untuk dikaji sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan formulasi yang dikembangkan.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Tantangannya adalah bagaimana material tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian yang terukur, sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam teknologi farmasi,” ujar Yedi.

Ke depan, penelitian ini juga diharapakan sampai pada sistem penghantaran obat untuk kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Salah satunya adalah karakteristik kitosan yang dapat berinteraksi dengan permukaan mukosa, sehingga membuka peluang penelitian mengenai formulasi yang dapat bertahan pada permukaan tertentu dalam saluran pencernaan untuk gangguan seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan.

Lebih lanjut, pengembangan penelitian di bidang teknologi farmasi sangat bergantung dengan dukungan fasilitas yang memadai, terutama untuk pengujian material dan formulasi yang kompleks. Ketersediaan peralatan, bahan baku, serta akses terhadap fasilitas penelitian akan membantu menjaga keberlanjutan proses riset. Di sisi lain, Yedi menilai bahwa dukungan Unpad melalui pendanaan hibah dan bantuan publikasi ilmiah turut membantu kegiatan penelitian. 

Budaya riset di Fakultas Farmasi Unpad juga telah tumbuh melalui aktivitas penelitian dan publikasi yang menjadi salah satu faktor pendorong bagi para peneliti untuk terus mengembangkan hasil penelitiannya. Harapannya ke depan penguatan fasilitas laboratorium dapat segera terealisasikan agar potensi riset dapat dikembangkan secara lebih optimal.

Bagi Yedi, pencapaian akademik bukan hanya tentang menghasilkan publikasi atau memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga membangun tradisi menulis publikasi dan penelitian yang dapat diteruskan oleh generasi akademisi berikutnya. Harapannya, penelitian mengenai sistem penghantaran obat dan pemanfaatan material alam dapat terus berkembang sebagai bagian dari kontribusi akademisi dalam membangun ilmu pengetahuan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya Indonesia untuk menjawab tantangan di bidang kesehatan.

“Harapannya, budaya menulis dan melakukan penelitian dapat terus berlanjut. Riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.* (R02)

The post Masuk Top 2% Scientists, Dr. Yedi Herdiana, Tekuni Pengembangan Sistem Penghantaran Obat Antikanker appeared first on Universitas Padjadjaran.

Sumber: Universitas Padjadjaran