[Kanal Media Unpad] Permasalahan limbah organik yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan lingkungan dan sektor pertanian. Menjawab kebutuhan tersebut, Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran menghadirkan "Asem7", sebuah inovasi dekomposer berbasis mikroba yang dirancang untuk membantu mempercepat proses penguraian bahan organik menjadi kompos berkualitas.
Asem7 merupakan terobosan dalam teknologi dekomposer yang dikembangkan melalui sinergi riset akademik Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran dengan inovasi industri PT Akselagro Gain Energi. Produk ini memanfaatkan tujuh jenis mikroba fungsional yang bekerja dalam proses dekomposisi, sehingga tidak hanya membantu mempercepat penguraian bahan organik, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah dan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Inovasi ini digagas oleh Dosen Program Studi Bisnis Logistik Sekolah Vokasi Unpad Dr. Rani Sukmadewi, M.AB., bersama Dr. Stefina Liana Sari, S.P., M.P., serta Dwi Novanda Sari, M.Sc., dari Program Studi Agroteknopreneur, dan M. Rifki Adinur Zein, M.I.Kom. dari Program Studi Manajemen Produksi Media
Pengembangan Asem7 berawal dari kebutuhan untuk menghadirkan dekomposer yang memiliki efektivitas serta stabilitas mikroba yang baik. Produk ini dikembangkan sebagai alternatif teknologi pengolahan bahan organik dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penelitian laboratorium, tetapi juga diarahkan menuju proses hilirisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Menurut Dr. Rani, sejak awal riset ini memang diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan hingga tahap pemanfaatan yang lebih luas. Beliau menjelaskan bahwa pengembangan Asem7 dilakukan untuk menghasilkan produk dengan efektivitas yang lebih baik dibandingkan produk yang telah tersedia di pasaran.
“Riset ini diawali dengan adanya kebutuhan untuk membuat produk yang memiliki efektivitas dengan fungsi produk yang dinilai lebih baik dari produk atau pesaing yang sudah ada di pasaran. Dan juga penelitian ini sebetulnya memang diarahkan ke arah hilirisasi, sehingga memang sejak awal penelitian ini dibentuk,” ujar Dr. Rani.
Nama Asem7 menggambarkan karakteristik utama produk, yaitu Accountable, Selective, Effective, Microorganism, serta tujuh mikroba yang dikembangkan untuk mendukung proses dekomposisi. Melalui kombinasi mikroorganisme tersebut, Asem7 dirancang untuk membantu proses penguraian bahan organik secara lebih optimal dan menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanah.
Asem7 digunakan sebagai bioaktivator dalam proses pembuatan kompos dengan cara mengaplikasikannya pada bahan organik yang akan diuraikan. Keunggulan utama Asem7 terletak pada formulasi mikroba yang beragam dan spesifik. Berbeda dengan dekomposer yang hanya mengandalkan satu atau beberapa mikroorganisme, Asem7 dikembangkan dengan pendekatan kombinasi tujuh mikroba fungsional sehingga mampu bekerja secara sinergis dalam proses dekomposisi.
Melalui pengembangan formulasi tersebut, Asem7 diarahkan untuk membantu menghasilkan kompos dalam waktu sekitar 2–4 minggu, menjaga stabilitas mikroba selama penyimpanan, serta memiliki potensi pengembangan lebih lanjut dalam membantu pengelolaan limbah organik yang masih bercampur dengan material lain.
Menuju Hilirisasi Produk dan Pemanfaatan yang Lebih Luas
Dalam perjalanannya, Asem7 telah melalui berbagai tahapan pengembangan, mulai dari formulasi produk, pengujian viabilitas mikroba, pengujian efektivitas dekomposisi, hingga tahap pengenalan kepada calon pengguna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi yang dikembangkan mampu mempertahankan populasi mikroba serta menghasilkan karakteristik kompos yang baik, termasuk peningkatan N-total dan penurunan rasio C/N sebagai indikator kematangan kompos. Capaian ini diperkuat oleh publikasi ilmiah tim peneliti berjudul “Acceleration of Organic Waste Decomposition: A Comparative Study of ASEM-7 Decomposer Efficiency on Several Organic Wastes” yang terbit di Journal of Applied Agricultural Science and Technology (JAAST) Vol. 9 No. 2 (2025), hasil kolaborasi dengan Politeknik Manufaktur Bandung dan Institut Teknologi Bandung. Studi tersebut mencatat bahwa Asem7 menstabilkan pH kompos pada kisaran 7–8 sejak hari ke-27, lebih cepat dibandingkan dekomposer pembanding EM4 yang baru stabil pada hari ke-37, serta menghasilkan rasio C/N akhir pada rentang 15–25 yang memenuhi standar mutu kompos.
Target pengguna Asem7 mencakup petani, kelompok tani, pelaku pertanian organik, pelaku agribisnis, hingga komunitas dan rumah tangga yang melakukan pengolahan limbah organik. Ke depan, pengembangan Asem7 juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti lembaga pengujian dan sertifikasi, pemerintah daerah, produsen pupuk organik, distributor produk pertanian, kelompok tani, serta mitra industri.
Melalui inovasi ini, Asem7 tidak hanya menjadi produk hasil penelitian, tetapi juga menjadi bentuk nyata pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan berbasis mikroba, limbah organik yang sebelumnya menjadi permasalahan dapat dikembalikan menjadi sumber daya yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan pertanian. Capaian ini sekaligus mencerminkan komitmen Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran dalam mendorong riset terapan berbasis keberlanjutan, sejalan dengan visi VOKASI SAE (Sustainable, Adaptable, Employable) menuju pendidikan vokasi yang Terampil, Mendunia, Membumi.* (Rilis oleh: Dr. Nurillah Jamil Achmawati Novel, S.AB., MBA. & Zahra Destriana Putri/Sekolah Vokasi Unpad)
The post Asem7: Inovasi Tujuh Mikroba Fungsional Pengubah Limbah Organik Menjadi Kompos Bernilai appeared first on Universitas Padjadjaran.
Sumber: Universitas Padjadjaran
Tinggalkan Komentar