[Kanal Media Unpad] Inovasi farmasi dan pangan yang aman, bermutu, serta berkelanjutan memerlukan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Kolaborasi ini berperan dalam menjembatani hasil penelitian perguruan tinggi dengan pengembangan produk yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, dalam materinya yang berjudul “Advancing Pharma and Food Innovation for a Healthier and Sustainable Indonesia”. Pemaparan tersebut disampaikan dalam kegiatan The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) bertema “Advancing Pharmaceutical Sciences through Sustainability and Translational Innovation” yang diselenggarakan secara hybrid di Bale Rumawat, Unpad Kampus Dipati Ukur, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Rabu (21/10).

“Perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya inovasi. Industri membutuhkan inovasi dari akademisi, sementara akademisi juga membutuhkan dukungan industri. Selain itu, tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri,” jelas Prof. Taruna.

Kepala BPOM RI menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam mendorong pengembangan inovasi. Melalui pendekatan Academia, Business, and Government (ABG), perguruan tinggi berperan menghasilkan pengetahuan ilmiah, industri mendukung pengembangan dan produksi, sedangkan pemerintah menjembatani kolaborasi sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Lebih lanjut, Prof. Taruna menyoroti perkembangan teknologi farmasi yang berlangsung pesat, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengembangkan kandidat obat. Perkembangan ini perlu diimbangi dengan kesiapan regulasi, pengujian, dan standardisasi produk untuk memastikan keamanan, mutu, serta khasiatnya.

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi berlangsung sangat pesat. Jika kita tidak mengikuti perkembangan teknologi mutakhir, kita akan tertinggal dan kalah dalam menghadapi tantangan di masa depan,” ungkap Prof. Taruna.

Kepala BPOM RI menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan visi jangka panjang serta keberanian untuk menetapkan tujuan besar. Sejalan dengan hal tersebut, Unpad didorong untuk terus mengembangkan potensi akademiknya dan memperkuat reputasi di tingkat global.

“Kita perlu memiliki impian, strategi, dan pemimpin yang mampu mendorong tercapainya pengakuan di tingkat global,” pungkasnya.

Sementara dalam sambutannya, Direktur Akademik Unpad Prof. Aliya Nur Hasanah mengatakan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang farmasi, perlu diarahkan untuk menjawab tantangan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia menambahkan, penelitian perlu dikembangkan melampaui laboratorium agar dapat menghasilkan obat yang lebih aman, terapi yang lebih efektif, serta teknologi berkelanjutan.

“Perspektif ini sejalan dengan arah keilmuan Unpad 2025-2029, yaitu unggul, inklusif, dan berdampak. Penelitian menghasilkan pengetahuan, sedangkan diseminasi memungkinkan pengetahuan tersebut tersebar dan menginspirasi,” kata Prof. Aliya.

Kegiatan The 7th ISPST 2026 berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis, 21-22 Oktober 2026. Pada hari pertama, seminar menghadirkan enam pembicara utama, yaitu Prof. Taruna Ikrar (Kepala BPOM RI), Prof. Aliya Nur Hasanah (Universitas Padjadjaran), Prof. Akhmad Sabarudin (Universitas Brawijaya), Dr. Esteban Cruz Gonzalez (Queensland Brain Institute, The University of Queensland, Australia), Assoc. Prof. Dr. Nor Amlizan Binti Ramli (Universiti Teknologi MARA/UiTM, Malaysia), Dr. Patanachai Limpikpirati (Chulalongkorn University, Thailand), serta Dr. Toru Taharabaru (Kumamoto University, Jepang)

Pada hari kedua, seminar menghadirkan Assoc. Prof. Niranjan Nagarajan (National University of Singapore dan Genome Institute of Singapore), Prof. Nasrul Wathoni (Universitas Padjadjaran), Dr. Stephen Ahenkorah (The University of Iowa, Amerika Serikat), Dr. Soraya Ratnawulan Mita (Universitas Padjadjaran), Dr. Rimadani Pratiwi (Universitas Padjadjaran), serta Prof. Mahmood Ahmed (University of Dundee, Inggris).

Kegiatan ini turut diisi dengan sambutan dari Ketua The 7th ISPST 2026 Rina Fajri Nuwarda, Ph.D. Hadir pula Dekan Fakultas Farmasi Unpad Prof. Auliya Abdurrohim Suwantika beserta jajaran pimpinan Fakultas Farmasi. Diikuti oleh 130 peserta yang hadir secara luring dan daring, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi serta mendorong pengembangan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi farmasi untuk menjawab tantangan kesehatan di masa depan.* (R01)

The post Hadir dalam The 7th ISPST 2026, Kepala BPOM RI Dorong Inovasi Farmasi yang Aman dan Berkelanjutan appeared first on Universitas Padjadjaran.

Sumber: Universitas Padjadjaran